Wednesday, February 18, 2009

air mata


AIR MATA

Air mata ini dengan sendirinya menetes
Keluar dari ujung jendela hati
Mengapa semua mengalir begitu saja
Saat merambatkan senja dikepulauan dermaga kedukaan hati
Air jernih ini bertambah deras menetes
Batin yang tersiksa makin menusuk
Saat dia hadir mengusik alam khayalku
Aku ingin bisa tersenyum, namun hati dan jiwaku tak berkehendak
Hanya air mata menjadi gambaran nyata dari keberadaan jelaga hati

Kuurai senyum, tapi kepalsuan begitu nyata
lewat mata batin ku merasakan keterpurukan
Manakala sepasang mata tajam mengarah dengan sorot penuh rasa
Ku yakin masih ada sepenggal kisah yang masih dia hayati
Seperti aku mengingat setiap kenangan yang pernah aku jalin bersamanya
Tak mungkin aku memungkiri
Semua adalah bagian dari jejak Yang telah ku ciptakan

Bersamanya ada banyak kisah yang belum terkisahkan
Dengannya ada banyak cerita yang menjadi kenangan
Di dalam dadanya aku mengelana sepanjang musim berganti
Pada atap hatinya rasa ini pernah aku titipkan

Ah......... aku tak ingin mengenangnya lagi
Aku hanya ingin merasakan atap hati kembali
Menarikan khayal dalam dendang penuh tawa
bukan dendang mendayu iramakan kedukaan
Pergilah kau dari pandangan hidupku
Dirimu bukan lagi penghuni istana hatiku
Selamat tinggal, biarkan aku meneteskan air mata
Sebagi akhir dari kisah yang ingin aku lupakan

No comments:

Post a Comment

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Subscribe to The Reason to Live by Email

About Me

My photo
My brain works best when i let my intuition be my guide. I like to imagine, speculate, and fantasize. I have fun playing with ideas. I'm interested in theories. I'm enjoy studying and developing them. I'm drawn toward art, philosophy, and even math. Almost every subject is interesting to me